Short Story Fake Pomade

FAKE POMADE - @fakebastart - Short story kali ini (masih berkolaborasi dengan @pompguitar) untuk berbagi cerita mengenai dinamik...


@fakebastart
-
Short story kali ini (masih berkolaborasi dengan @pompguitar) untuk berbagi cerita mengenai dinamika 'homebrew' yang artinya adalah masuk dalam ranah 'kustom' dan  bukanlah menjadi sebuah produk masal yang dapat dengan mudah  untuk diperoleh di toko terdekat  :). khususnya di Indonesia.

Langsung saja pada runtutan cerita singkatnyamengenai FAKE POMADE, Light Hair dress - Apple Rum.


photo : @pompguitar

"The Art of Fake"
Selamat hari senin semuanya! Kali ini saya akan kembali mereview sebuah produk pomade oilbased buatan anak bangsa. Produk ini terbilang unik, karena dari kesan pertamanya saja sudah terkesan bercanda. Namun, dibalik itu semua ada hal lain yang ternyata menggelitik pemikiran dan kegelisahan saya terhadap skena pomade tanah air. Yap.. pomade ini berjudul "i'm the FAKE POMADE brewer". Judul yang sangat konfrontatif menurut saya. Dimana umumnya, saat semua brewer merasa barangnya authentic dan menjunjung tinggi nilai orisinalitas, pomade ini semacam bercanda dengan nama, dan bahkan designnya yang berkonotasi negatif. Seperti apa detilnya, nanti akan saya bahas lebih jauh. Langsung saja overall reviewnya.

I'm the FAKE POMADE brewer Light Hair Dress - Apple Rum
Oilbased pomade, light hold, medium to high shine
Apple Rum Scent.

Pros :
+ amazing concept.
+ soft, manly, yet refreshing scent.
+ very good endurance.
+ dense yet slick buildup.
Cons :
- slickness sedikit kurang.
- grip kurang mantap di pemakaian awal.
- kelengketan menurun jika terpapar panas berlebih.

Ingredients list :
Petrolatum, Microcrystalline Wax, Beeswax, Coconut Oil, Castor Oil, Fragrance.


Concept :
Inilah yang sejak awal justru menjadi daya tarik pomade ini. Konsep pomade palsu alias fake pomade. Mengapa harus fake ketika semua orang ingin dianggap original..? Ini yang sejak awal menggelitik saya. Brewer yang entah darimana ini, mengirimkan pesan yang cukup menohok pemikiran dan kegelisahan saya sebagai penikmat dan pemakai pomade. Ketika saya cari2 dimana keterangan pomade ini dibuat, tidak ada informasi. Namun dia cukup jeli memberikan semua informasi ttg produknya kecuali asalnya. Lantas, apa hubungan fake pomade dan fake taxi..? Saya sedikit berpikir diluar jalur. Jika fake taxi menggunakan judul ini untuk menyembunyikan intensi sebenarnya dari si supir taksi ini, maka jangan2 fake pomade ini pun sama. Ada intensi lain di balik produk penata rambut ini. Maka, saya mencoba mengkaitkan semua kepalsuan produk ini pada tiap elemennya. Baik dari segi kemasan, substansi, dan performa.

Packaging & Design :
Berawal dari kemasan kaleng plastik tutup ulir berwarna putih berukuran 2,5 Oz, saya mencoba utk membaca pesan dari sang brewer ttg pomade ini. Yah, peredaran pomade palsu (pomade dengan bahan baku dibawah standar kosmetik grade) memang acap kali muncul di pasaran. Dengan iming2 harga yang dibandrol cukup murah dari brewernya, reseller bisa dengan mudah mendapat untung besar. Serta kadang dengan mudahnya mereka menawarkan private label kepada reseller yang ingin menjadi "brewer" pomade palsu ini. Salah satu ciri khas yang beberapa kali saya temui di pasaran, wadah plastik seperti ini acap kali digunakan mengingat harga wadah seperti ini termasuk yang paling murah dibandingkan kaleng atau pot plastik lainnya. Lalu, merambah ke wilayah design artwork. Stiker berlatar kuning dengan tulisan hitam yang sekilas mirip dengan logo Fake Taxi, namun jika dicermati (saya cari beberapa sumber di internet) tidak mirip dengan aslinya. Kemudian saya mencoba membaca pesan dari logo ini. Brewer menambahkan tulisan warning! Parental advisory Explicit oilbased content" dibawah tulisan "im the fake pomade brewer". Disitu saya memaknai warna kuning yang biasanya diindikasikan sebagai warna tanda peringatan, lalu disusul tulisan warning, seakan menguatkan ide tentang tulisan "im the fake pomade brewer" ini. Jika dimaknai secara keseluruhan, maka secara implisit si brewer ingin memperingatkan bahwa dialah sang brewer dari "fake pomade" ini. Lalu dari segi tulisan "parental advisory" seolah memberi peringatan kepada user dibawah umur untuk berhati-hati saat menggunakan produk ini. Lantas, pomade palsu manakah yang dimaksud oleh si brewer ini..?

Texture & Application :
Substansi sendiri berwarna putih cerah, khas micro. Saat dicolek, cukup lembut namun padat dengan perbandingan greasy dan waxy yang cukup berimbang. Saat diratakan karakter substansi menjadi greasy dan tidak lengket. Saat aplikasi sebanyak 3 colek di rambut full degrease jg cukup mudah. Perataan di rambut cukup mudah layaknya pomade light umum. Uniknya, substansi menempel sempurna di rambut namun tidak ada kesan lengket saat disisir. Alhasil kontrol sisiran dan volume menjadi lumayan baik. Namun sayang slickness jadi sedikit berkurang. Menyisir contour yang padat menjadi cukup mudah. Sejujurnya, gaya substansi seperti ini tidak pernah saya temukan di pomade palsu yang saya pernah pakai sebelumnya. Bahkan kontrol dan karakter well balanced dari pomade ini serasa pomade2 ngetop lainnya. Tidak ada rasa aneh apapun di rambut saya. Everything is well balanced.



Performance & Endurance :
Saya mendapatkan performa light hold, medium to high shine. Dengan slickness dan volume yang cukup untuk sebuah sisiran executive contour. Dari aroma yang muncul ini kembali saya bisa membaca intensi si brewer. Mengapa harus apple? Dan mengapa harus ada rum nya? Seharusnya aroma apple ini memunculkan kesan fresh yang umumnya disukai anak2 atau org awam, namun serta merta rusak dengan aroma rum yang getir. Alhasil aroma yg muncul jadi gelap, soft, dan manly. Khas pria dewasa. Disini saya beranggapan bahwa aroma buah yang sudah jadi salah satu daya tarik pomade palsu yang notabene banyak menjaring user awam maupun anak2, seakan dibengkokkan dengan aroma rum yang mungkin sangat khas user enthusiast yang suka aroma nyleneh2. Dan lagi, rata2 hanya pomade2 yang bermain di wilayah enthusiast baik lokal maupun impor yang sudah terbiasa untuk mengembangkan aroma2 liquor di produknya. Dari segi ketahanan juga amat baik. Saya memakai pomade ini selama 11 jam. Dengan terpapar panas matahari selama +-3 jam perjalanan, hanya sekali memakai helm, total saya hanya recomb sebanyak 2x. Itupun karena saya cuci muka dan rambut terkena cipratan air. Hold tidak ada penurunan. Hanya kelengketannya yang menurun. Alhasil sisiran sama seperti saat aplikasi. Saat degrease juga cukup mengejutkan. Setelah degrease saya justru mendapati buildup yang cukup tebal untuk ukuran light hold. Berkisar sekitar 30-40% dan bahkan saya masih bisa membentuk contour lagi tanpa menambahkan substansi dan bahkan hasilnya bisa lebih slick. Ini yang khas murrays sekali. Ini sangat khas pasar enthusiast. Disini saya membaca pomade ini tidak diperuntukkan untuk para "pemakai pomade" palsu. Pemakai yang berharap banyak dari performa pomade oilbased, namun takut akan buildup. Biasanya tipe pemakai seperti ini temporer dan tidak terbiasa memakai produk secara rutin karena males kena buildup. Maka dengan beberapa fakta yang saya temukan saya bisa menyimpulkan bahwa pomade ini adalah sebuah sindiran yang menurut saya cukup keras untuk skena pomade lokal.

Final Verdict :
Dari semua temuan saya pada produk ini saya menyimpulkan bahwa, sebuah produk tak hanya sebagai komoditas bisnis yang hanya berpusat pada neraca untung dan rugi. Di satu sisi saat produk tersebut sudah mencakup wilayah artistik, kreatif, dan kritis, ditambah adanya wadah2 yang menaungi para penikmatnya seperti komunitas, sudah seharusnya sebuah produk dihargai lebih. Maraknya pomade palsu di skena lokal kita, seakan menjadi buah simalakama yang kelak pelan2 akan kita telan bersama. Di satu sisi, setiap pebisnis berhak untuk mencari nafkahnya masing di skena ini. Namun disisi lain, maraknya pomade palsu, brewer palsu (artisan), dan user palsu (poser) juga pelan2 akan menodai skena ini dengan beragam masalahnya. Suatu contoh ttg bahan yg ga standar, orisinalitas yang dipaksakan, dan juga pemakai2 di bawah umur dan impulsif yang tidak siap dengan skena yang seharusnya jadi mainan org dewasa ini. Terlepas dari semuanya. Saya membaca pomade ini pun ga dibuat sembarangan. Si brewer tau dengan pasti carut marutnya skena pomade lokal. Dan seakan jadi bom yang diletakkan di tengah hiruk pikuknya kota. Brewer hanya ingin memberi sedikit statemen. Bahwa pebisnis memiliki hak untuk untung dengan memanfaatkan produk dan pasarnya, namun brewer sebagai seniman juga memiliki hak untuk melawan dan berteriak dengan karyanya.

Original story from the reviewer

Kurang lebih seperti paparan diatas 'Short Story' untuk Fake Pomade - Light - Apple Rum

Dan nantikan kelanjutan short story berikutnya. Salam Klimis.
Reactions: 

Related

Pomade Store 7361272245976654418

Posting Komentar

Translate

Page

Rockadiningrat Store

Ulasan Singkat

Short Story Rod Rabbit Pomade Eat Ride Slick Series

Short Story Rod Rabbit Pomade Eat Ride Slick Series Cerita singkat dari POMPGUITAR   Sedikit mengulas hasil aplikasi dan berb...

Latest Post

@rockadiningrat

Twitter

Follow by Email

item